Sang pemilik mata sabit

 Sang pemilik mata sabit 


Awalnya saya berniat untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama,
Saya mau mengakui semua kepadanya, bahwa ketakutan ku adalah kehilangan.
Saya butuh dia! Tapi sore itu, disaat gerimis mulai jatuh menyapa bumi, saya dibuat geming tak berkutik.

Dia...Yang kala itu memegang payung dengan mata sabit favorit saya.
Senyumnya masih sama, menenangkan...

Tapi, satu-satunya yang membuat gemuruh itu hadir di dalam diri saya adalah matanya yang memancarkan gemulai senja.
Sebab, dikala saya melihat mata favorit saya, tidak lagi ada 'KITA' didalamnya.

Kita telah redup, karena pancar mata sabitmu telah berganti menjadi senja di sore itu....
Tutur batin saya berkata bahwa senja akan segera berlalu, dan kita telah berakhir...


Nyatanya pemilik mata sabit itu bukanlah untuk saya...
Sekali lagi...
Kamu bukan untuk saya...

Written by: Mujadilla, Prodi komunikasi dan penyiaran Islam, Semester 1.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jabatan Tinggi, Etika Rendah

HMPS HK Gelar Seminar Nasional: Wujudkan Generasi Melek Aturan, Anti Perundungan, dan Anti Korupsi

Datokarama Arabic Fest 2025: Malam Puncak Milad ke-28 HMPS PBA