Cinta dan hijarahku
Cinta dan hijarahku
Ini bukan kisah cinta yang sesungguhnya, Ini tentang hijrah karena manusia dan lupa akan Ridho-Nya. Allah tidak pernah melarangmu untuk mencintai, namun caramu dalam mencintai seseoranglah yang salah. Bukankah hijrah itu harus di niatkan karena Allah? Lantas bagaimana jika hijrah seseorang hanya semata ingin mendapatkan cintamu.
Namaku Alishba Humaira. Pada awal bulan Desember 2021, Aku mengenali sosok pemuda yang begitu sempurna di mataku. Pertemuan yang tak pernah Aku bayangkan, ia masuk dalam kehidupanku dan membuat hidupku berubah, menyadarkan Aku tentang hijrah yang sesungguhnya. Namanya Muhammad Abrisam, Ia adalah seorang mahasiswa jurusan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, semester 7 dan juga menjadi ustadz muda yang memberikan inspirasi kepada sesama manusia. Aku jatuh cinta kepadanya karena ilmu agamanya, sholeh, murah senyum, dan juga lumayan tampan. Saat itu Aku masih minim dalam ilmu agama, masih banyak hal yang belum Aku ketahui. Bahkan kadang Aku sering mengabaikan sholat, tapi setelah mengenalnya akhirnya Aku berusaha untuk jadi lebih baik, meninggalkan apa yang dilarang dan mengerjakan apa yang diperintahkan Tuhan. Setiap Ia melakukan perkumpulan di masjid kampus selepas sholat ashar untuk membahas tentang agama, Aku selalu mengikutinya tanpa melewatkan sekalipun. Awalnya Aku mengikuti perkumpulan itu bukan karena ingin mendalami ilmu agama tapi Aku ingin lebih dekat dengannya. Suatu ketika, tanpa ku sadari ternyata Ia sedang memperhatikan gerak gerikku. Ia mengetahui bahwa Aku sedang memperhatikannya selama ini. Aku tidak memperhatikan apa yang ia sampaikan tapi Aku memperhatikan siapa yang menyampaikan. Itu adalah hal bodoh yang Aku sesali, bagaimana tidak saat Aku menatapnya ia juga menatapku. Buru-buru Aku memalingkan kepalaku, melihat sekitar lalu menundukkan kepala.
Setelah pembahasan selesai, kami semua bergegas untuk pulang. Aku dan temanku sebut saja Alisa, kami berjalan menuju kost yang aku tempati sekarang, tidak jauh dari kampus. Di tengah perjalanan, entah dari mana asalnya kak Abrisam muncul dan memberikan Aku sebuah kertas yang terlipat dengan rapi. Setelah memberikan kertas itu, ia mengucapkan salam lalu pergi meninggalkan kami.
"Main surat-suratan nih." Ledek Alisa.
"Apaan sih." Ucapku sambil senyum salah tingkah
.
"Saatnya cinta diam selama setahun akan berakhir." Goda Alisa lagi. Yaa kurang lebih satu tahun.
Aku hanya tersenyum dan membayangkan isi kertas yang ku pegang, Aku tidak ingin membukanya tapi Aku juga penasaran dengan isinya. Sesampainya di kost, Aku bergegas untuk membersihkan diri, setelah semuanya beres. Aku langsung membuka kertas yang terlipat rapi itu. Ku buka perlahan, dan Aku mendapatkan tulisan:
"Assalamualaikum Maaf, Aku tidak sengaja memperhatikanmu. Namun bolehkah, jangan menatapku seperti itu. Aku melihat tingkahmu seperti kebingungan dan ada hal yang menjanggal. Jika ada yang ingin ditanyakan, boleh antum menanyakan di pembahasan selanjutnya, Wassalamualaikum."
Aku sedikit kecewa dengan isinya. Namun disisi lain, Aku juga bahagia karena Ia care. Hehehe
Tiba saatnya, Ia mengadakan agenda diskusi. Ia memberikan kesempatan kepada orang yang ingin bertanya dan Aku salah satunya, Aku menanyakan apa yang ingin Aku tanyakan selama ini. Aku mengacungkan tangan dan Ia mempersilahkan Aku.
"Assalamualaikum, perkenalkan nama saya Alishba Humaira dari prodi Hukum keluarga. Maaf sebelumnya, karena pertanyaan saya mungkin sedikit melenceng dari pembahasan saat ini tapi tetap mengenai agama. Jadi pertanyaan saya, Misalnya ada seorang wanita yang berhijrah namun dia berhijrah karena ingin terlihat sholehah di depan orang yang Ia cintai. Pria yang Ia cintai itu adalah orang yang paham agama, mereka tidak memiliki hubungan apapun. Wanita itu hanya mencintai secara diam. Apakah ini salah? Mohon pencerahannya, terimakasih Wassalamualaikum." Tuturku.
Dari raut wajah kak Abrisam, sepertinya Ia paham apa yang Aku maksud, Ia lalu memberikan argument tentang hijrah itu sendiri.
"Waalaikumussalam, pertanyaan yang sangat bagus. Mengenai hijrah, jika seorang yang ingin berhijrah karena manusia maka itu salah, apalagi ingin terlihat sholehah di depan orang yang Ia cintai dan berharap agar pria tersebut dapat mencintainya kembali, sebab ketika kecewa dan sakit hati terhadap orang yang antum cintai maka antum pasti akan beranggapan bahwa itu semua sia-sia dan tidak ingin melanjutkan hijrah lagi. Namun, jika seorang berhijrah karena ikhlas ingin mendapatkan Ridho dari-Nya, maka InSyaa Allah antum tidak akan merasa sakit dan kecewa. Ketahuilah ketika Zulaika mengejar cinta Yusuf, Allah jauhkan Yusuf dari Zulaika tapi ketika Zulaika mengejar cintanya Allah maka Allah datangkan Yusuf kepada Zulaika. Sekian Wassalamualaikum." Jelas Abrisam.
"Mungkin ada yang ingin menambahkan atau menanggapi...," Lanjut Abrisam.
Aku tidak lagi mendengarkan siapa yang berbicara, sudah cukup membuatku sadar oleh perkataan yang keluar dari mulutnya. Aku diselimuti dengan rasa bersalah sebab tujuan hijrahku bukan semata karena Allah tapi karena manusia.
Sejak saat itu juga, Aku ingin seperti Zulaika yang kak Abrisam katakan. Yang mengejar cintanya Allah. Dan berhijrah di jalan Allah. Walaupun dalam berhijrah, butuh keikhlasan dan kesabaran sebab proses yang dilewati tak semulus yang kita kira banyak hal yang harus kita lalui untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi.
Seseorang bisa bersalah dan akan berakhir dengan bertaubat. Akan tetapi, bencana yang amat besar adalah jika seseorang bersalah namun tidak segera sadar kalau ia bersalah. Lebih celaka lagi adalah saat ia sadar, akan tetapi tetap terus dengan kesalahannya.
-Buya Yahya
"Barang siapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Barangsiapa yang hijrahnya karena Dunia atau karena wanita yang hendak di Nikahinya maka Hijrahnya sesuai kemana dia Hijrah" (HR. Bukhari dan Muslim).
Written by: Nurhikmah, prodi komunikasi dan penyiaran Islam, Semester 3.

Komentar
Posting Komentar