Tak terkejar
Tak terkejar
Tak terkejar
Dari alas peron-peron yang hampir tidak memiliki nyawa
Setiap mata akan selalu mendambakan rumah
Aku melihat penantian panjang yang siap menggulung jarak
Pergi untuk pulang, pulang untuk kembali
Datang untuk singgah, tanpa maksut sungguh
Segala perjalanan hanyalah tahun-tahun yang dipaksa bertahan
Dan semesta barangkali hanya ingin tahu
Antara mendung dan sepasang mata
Siapa yang lebih dulu menyerah.
Written by: Abdul Wahid, prodi komunikasi dan penyiaran Islam, Semester 1.

Komentar
Posting Komentar