SEMUA BELUM USAI
SEMUA BELUM USAI
Kala itu, aku hanyalah seorang anak kecil yang belum paham mengenai semua yang terjadi di kehidupanku.
Yah panggil saja aku “zana”
Tidak pernah terlintas di benakku bahwa kehidupan yang hanya sekali ini aku menjadi anak yang kurang beruntung dalam hal apapun, aku tumbuh menjadi anak yang broken Home, orang tuaku pisah sejak aku berusia 12 tahun yahh hidup tanpa keluarga yang utuh memang sangat menyedihkan aku kehilangan peran seorang ayah, dia memang masih ada tapi tidak dengan perannya, sebagian anak perempuan menganggap bahwa ayah adalah cinta pertama mereka tapi tidak denganku, dulu aku hampir putus asa buat lanjutin hidupku lagi tapi ada seseorang yang menjadi alasanku buat aku bertahan sampai akhir. Yah dia adalah ibuku
Dan aku menerima semua yang Allah takdirkan buatku tanpa bertanya kenapa, karena aku tau itu pasti yang terbaik.
Pagi itu matahari mulai menampakkan cahayanya yang begitu indah, berpikir dan berpikir bahwa kita gak akan bisa lari dari kehidupan, mau menghindari realita kehidupan pun gak akan mungkin, kembali lagi ke aktivitas seperti biasa aku bersiap buat pergi ke sekolah setelah semuanya selesai aku berangkat sekolah bersama ibu, yah ibuku lah yang menjalankan 2 peran sekaligus di kehidupanku yaitu “ayah dan ibu” tanpa mengenal rasa lelah, tiba di halaman sekolah aku berpamitan dengan ibuku, belum lama ibu menghilang dari kawasan sekolah aku sudah mendapatkan banyak tatapan sinis dari teman teman sekolahku, hari ini awal masuk sekolah setelah 3 Minggu libur dan aku baru menduduki kelas 2 SMA, berjalan tanpa memperdulikan banyak orang yang menatapku tanpa senang itu, dengan kaki yang gemetar aku menuju kelas yang masih sepi, butiran bening itu jatuh lagi membasahi pipiku dalam hati berkata “ya Allah seindah apa di ujung sana hingga kau memberiku ujian kehidupan yang sulit ini, kehidupan yang banyak sedihnya, kehidupan yang aku gak sanggup buat jalanin setiap harinya” memang setahun belakangan ini aku mendapatkan perlakukan buruk dari teman teman sekolah, mulai dari gak punya sosok ayah, ekonomi, keluarga bahkan kehidupanku pun menjadi bahan ejekan mereka.
Bel istrahat pun berbunyi, aku segera merapihkan alat tulisku lalu bergegas menuju kantin, di perjalanan ke kantin aku gak sengaja melihat seorang siswa yang duduk sendiri sambil merenung di bawah pohon yang berada di taman, yahh aku menghampirinya
“Haii, siapa namamu”? kataku pada orang itu
“Hai, aku Uma, namamu siapa”? Ucapnya padaku
“Namaku zana, kenapa duduk sendiri disini kenapa gak ke kantin aja”
“Yahh aku lagi gak punya uang, mamaku lagi gak ada uang”
“Ayokk ke kantin biar aku traktir”
“Eh jangan lagi pula kita baru kenal masa langsung kamu traktir gak boleh, lagian aku gak
lapar kok”
“Gak apa lagipula uang jajan diberi ibuku lebih jadi ayok ke kantin”
“Boleh deh nanti kalau aku punya uang aku ganti yah”
“Gampang ituu”
Kami pun berjalan bersama ke kantin, sesampainya di kantin aku dan uma langsung
menuju ke stand makanan untuk memesan, aku melihat sekeliling untuk mencari bangku kosong dan ternyata sudah full, tidak lama dari itu uma tiba tiba menarik tanganku untuk menuju ke satu meja yang sudah ada orangnya tapi masih ada 2 kursi lagi yang kosong, belum saja kami menduduki kursi itu tapi seorang siswi yang ada disana langsung mengatakan “kursinya sudah ada yang punya jadi kalian gak boleh duduk disitu” aku melihat siswi tersebut dan ternyata dia adalah orang yang menatapku tanpa senang tadi pagi, akupun langsung mengajak Uma untuk pergi mengambil makanan yang kami pesan dan langsung bergegas keluar dari dari kantin, setelah berpikir untuk mencari tempat
yang nyaman buat makan yah pilihannya tetap pergi ke taman tempat pertama kali kami
bertemu.
Duduk dengan nyaman sambil menikmati makanan, tiba tiba datang 3 orang siswi
awalnya mereka cuman duduk di bangku kosong yang tak jauh dari tempat kami tapii,
salah satu dari mereka berkata kepada temannya.
“Lihat deh si anak culun sekarang sudah punya teman hahahah” katanya
Entah apa yang lucu hingga mereka bertiga pun tertawa tanpa henti, dengan memberanikan diri aku bertanya kepada mereka
“Ada yang lucu dari kami hingga kalian tertawa seperti itu? ”
“Dih si anak broken home mau jadi pahlawan nih” katanya.
Mataku sudah berkaca siap untuk mengeluarkan butiran bening itu dari tempatnyaa, memang aku secengeng ini kalau ada yang membahas tentang keluargaku, aku merasakan ada sebuah tangan yang memegangku dan ternyata itu adalah umaa, dia mencoba menenangkanku dan membalas perkataan siswi tadi.
“Memangnya kenapa sama anak broken home? Kan gak merugikan kalian juga,” kata Uma.
“Lah kok nyolot sih, toh bukan kamu yang kita bilang,” siswi 1.
“Tau nih si uma gaya banget mau bela si anak broken home,”siswi 2.
“Lagian Lo ngapain sih temenan sama dia? Udah keluarga hancur di sekolah gak ada
teman haduhh” siswi 3
“Hahahaha” yah mereka bertiga kembali tertawa dan kali ini tawa ejekan yang membuatku menangis.
Karena Uma gak mau memperpanjang masalah jadilah dia menarik tanganku untuk
menjauh dari 3 siswi tadi.
Bel pulang sekolah berbunyi, aku keluar kelas tanpa memperdulikan banyak siswa yang ada dikelas, berjalan menuju gerbang sambil menunggu ibu datang menjemputku, 20 menit berlalu ternyata ibu tak kunjung datang aku memutuskan buat berjalan kaki untuk kembali kerumah, dari sekolah kerumah sekitar 10 menitan saja.
Sampainya dirumah ternyata ibu sedang berada didapur aku langsung menghampiri ibu lalu megambil tangannya untukku salim.
“Loh kok udah pulang aja, padahal selesai ibu masak baru ibu jemput”
“Iyah Bu soalnya sekolah udah mulai sepi dan kita juga di pulangin lebih awal”kataku.
“Yasudah kamu bersih bersih habis tuh makan”
“Okey ibu”
Aku berjalan menuju kamarku, sampainya dikamar aku segera membersihkan diri lalu duduk di kasur sebentar sambil ngelamun dan pikiranku kembali pada kejadian di sekolah tadi, tiba tiba air mata jatuh sendiri membasahi pipi dalam hatiku berkata “Memang salah yah kalau aku jadi broken home? Memangnya anak broken home gak boleh bahagia? Gak boleh punya teman? Semenyedihkan ini yah hidup menjadi anak yang kurang beruntung dalam hal apapun, Ya Allah bukan yang seperti ini yang aku
inginkan, aku juga mau kayak orang orang yang selalu beruntung dalam hal apapun, aku
juga mau punya keluarga yang utuh seperti orang orang tanpa merasakan pedihnya hidup
tanpa orang tua yang utuh.”
"ZANAAAA” kudengar ibu memanggilku langsung saja aku kekamar mandi dan membasuh mukaku untuk menghilangkan jejak air mata tadi, 20 menit berlalu aku dan ibu sudah selesai makan siang.
Aku sudah selesai membereskan bekas makan kami lalu mencucinya
“Ibuu aku pamit ke kamar yah mau istrahat heheh”kataku
“Langsung istirahat yah awas kalau ngelakuin kegiatan lain”
“Iyaaa ibukuuuu”
Dalam kamar aku merenung tiba tiba saja aku kembali mengingat ayah, ku raih ponselku yang tergeletak di sampingku, kucoba menelpon ayah 1, 2, 3, 4, 5 kali aku menelpon tak kunjung ada jawaban dari ayah, mataku mulai berkaca lagi “ya Allah rindu ayah” memang ayahku sudah memiliki keluarga baru semenjak pisah dari ibu waktu itu aku yang masih berusia 12 tahun, yah penyebab ibu dan ayahku berpisah tak lain adalah perselingkuhan yang dilakukan oleh ayahku, sakit? tentu saja itu yang aku rasakan pada saat itu, anak kecil yang belum terlalu paham tentang suatu hubungan tiba tiba di hadapkan dengan permasalahan yang terjadi di antara orang tuanya, Yahh itu akuu seorang anak kecil yang pada saat itu masih butuh sosok ayah dan ibu untuk menemani setiap proses yang kulakukan, anak kecil yang masih butuh keluarga yang utuh buat tumbuh kembangnya
untuk menjadi dewasa, ayahku berubah semenjak pisah dari ibuku, dia tak lagi menanyakan kabarku, tak lagi menafkahiku, tak lagi meneleponku, sakitt sekali saat keluarga yang harmonis tiba tiba hancur karena sebuah kesalahan fatal, aku hilang komunikasi sama ayah semenjak ayahku memutuskan untuk memulai keluarga barunya, sejak saat itu rasa benciku terhadap ayahku semakin besar, aku berjanji buat gak mau lagi ketemu sama ayah walaupun di suatu kebetulan manapun.
Hidup sama ibu semenjak pisah dari ayah membuatku menjadi anak yang mandiri, ibu
yang menjalankan 2 peran untuk mencukupi kebutuhanku, aku tau ibu saat itu lelah,
terpuruk, sakit, tapi apa boleh buat memang sudah takdirnya seperti ini.
Tiap malam melihat ibu menangis, aku gak tau apa yang membuat ibu menangis tapi aku paham apa yang ibu rasakan sekarang, ibu yang gak pernah nunjukin rasa capeknya
sama aku, setiap selesai sholat selalu doa’ yang sama yang kulangitlan “Ya Allah tolong bayar semua rasa lelah yang ibu rasakan, Ya Allah akhiri semua penderitaan yang ibu rasakan, ibuku sudah capek ya Allah, kapan bahagiah itu datang buat kami kasian ibu semuanya dia
yang tanggung."
***
3 tahun berlalu........
Di perjalanan pulang menuju rumah setelah dari kampus, setibanya di halaman rumah aku melihat seseorang yang sangat aku rindukan yahh dia ayahku yang entah sudah berapa lama duduk di teras rumahku, seseorang yang berapa tahun terakhir ini tidak pernah aku kabarnya, kini berdiri tepat di hadapanku.
“Ngapain disini” kataku
“Zana apa kabar nak”? Ucap ayah
“Kabar baik bahkan lebih baik setelah gak sama ayah” memang terdengar kasar tapi itu
kenyataannya itu yang aku rasakan sekarang
“Maafin ayah nak, maaf buat semuanya”
“Ngapain minta maaf kan gak salah” ucapku dengan mata yang sudah berkaca
“Maafin ayah zana” ucap ayah sambil memelukku
Damnn air mataku jatuh, aku rindu pelukan itu, aku rindu ayah.
“kenapa datang lagi di kehidupan zana pas zana udah terbiasa hidup tanpa ayah, kenapa
datangnya pas zana udah benci sama ayah, kemana aja selama ini, ayah tau gak semenderita apa zana setelah kehilangan peran seorang ayah, tau gak se siksa apa hidup Zana disekolah, di ejek di bully karena gak punya ayah sakit tau yah jalanin hari hari dengan penuh luka seperti ini”
“Maafin ayah nak ayah salah karena ninggalin zana, maafin ayah, apa yang harus ayah
lakuin supaya bisa dapat maaf dari zana?”
******
Hari berganti hari perlahan semuanya sudah membaik, aku sudah mulai menerima keberadaan ayah lagi perlahan aku sudah mulai memaafkan ayah lagi mulai menerima semua yang terjadi di hidupku, perjalananku memang tidak mudah mendapat banyak perlakuan buruk dari cacian makian kata kata kasar yang dilontarkan padaku hingga bullying yang aku dapatkan dari teman teman aku pun menerimanya, cukup sakit jika harus didengarkan dan dirasakan tapi pada akhirnya ikhlas yang menjadi pemenangnya, memaafkan semua yang terjadi di kehidupan ku karena memang ini adalah takdir, aku percaya bahwa Allah gak mungkin menguji umatnya jika tidak ada hal indah sebagai gantinya.
Written by: Nurarifah
NIM: 244100008

Komentar
Posting Komentar