Peringatan Haul Guru Tua Habib Sayyid Idrus bin Salim Aljufri ke-57 di Kota Palu
OPINI
Kota Palu kembali menjadi saksi betapa mendalamnya cinta dan penghormatan masyarakat terhadap almarhum Habib Sayyid Idrus bin Salim Aljufri, sang Guru Tua. Peringatan haul yang ke-57 ini tidak hanya dihadiri oleh tokoh-tokoh agama dan masyarakat , tetapi juga oleh lautan umat dari berbagai penjuru. Pemandangan ini menjadi bukti nyata bahwa warisan ilmu, spiritualitas, dan nilai-nilai luhur yang ditanamkan Guru Tua lebih dari setengah abad lalu, masih terus hidup dan mengakar kuat di hati masyarakat kota Palu dan sekitarnya.
Kehadiran ribuan orang dalam acara haul ini bukanlah sekedar tradisi rutin. Lebih dari itu, ini adalah ekspresi kerinduan dan pengakuan atas jasa-jasa besar Guru Tua dalam membimbing umat. Beliau bukan hanya seorang pendidik yang mendirikan Madrasah Alkhairaat sebagai tonggak pendidikan Islam di kawasan ini, tetapi juga seorang tokoh panutan yang mengajarkan nilai-nilai kesederhanaan, toleransi, dan persatuan.
Melihat antusiasme masyarakat yang memadati lokasi acara haul, kita dapat merasakan betapa ajaran dan keteladanan Guru Tua masih sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari. Di tengah berbagai tantangan zaman, pesan-pesan beliau tentang pentingnya ilmu, akhlak mulia, dan persaudaraan umat terus digaungkan dan dihayati oleh masyarakat.
Kegiatan haul ini menjadi momentum penting bagi masyarakat Kota Palu untuk kembali merenungkan nilai-nilai yang telah diajarkan oleh Guru Tua. Ini adalah kesempatan untuk memperbarui komitmen dalam mengamalkan ilmunya, meneladani akhlaknya, dan melanjutkan perjuangannya dalam membangun masyarakat yang lebih baik. Kehadiran berbagai kalangan masyarakat dalam satu wadah, haul ini juga menjadi simbol persatuan dan kebersamaan, nilai yang selalu ditekankan oleh Guru Tua.
Di tengah suasana peringatan yang seharusnya penuh khidmat dan penghormatan ini, muncul isu terkait Bapak Fuad Plered. Kasus ini menjadi sensitif karena menyangkut tokoh yang sangat dihormati oleh masyarakat kota Palu.
Menurut saya, peringatan haul Guru Tua seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua, termasuk tokoh publik, tentang pentingnya menjaga ucapan dan tindakan, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai agama dan tokoh-tokoh panutan masyarakat. Guru Tua telah mengajarkan banyak hal tentang akhlak dan saling menghormati.
Isu yang melibatkan Bapak Fuad Plered menjadi perhatian karena nilai-nilai penghormatan terhadap tokoh agama dan budaya sangat kuat di kota Palu, meskipun kemarin nama Guru Tua di terpa sedikit gangguan di karenakan isu tersebut, tidak menjadikan beliau menjadi turun citra di mata masyarakat, akan tetapi ternyata makin banyak jamaah yang hadir dan makin tau siapa sosok guru tua sebagaimana diibaratkan kayu gaharu yang mana semakin di bakar semakin harum baunya.
Semoga semangat persatuan dan nilai-nilai luhur yang diajarkan Guru Tua dapat menjadi pedoman dalam menyikapi setiap permasalahan yang ada di kota Palu. Peringatan haul ini seharusnya memperkuat rasa persaudaraan dan saling menghargai di antara kita semua.
Lebih dari sekedar mengenang, peringatan haul ini seharusnya menginspirasi kita semua untuk mencontoh semangat Guru Tua dalam berkontribusi positif bagi masyarakat. Semangat beliau dalam mencerdaskan umat, mempererat tali silaturahmi, dan menebarkan kedamaian patut kita jadikan teladan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dengan banyaknya masyarakat yang hadir dalam haul ke-57 Guru Tua di kota Palu, kita semakin yakin bahwa cahaya ilmu dan spiritualitas yang beliau bawa akan terus memancar, menerangi jalan bagi generasi kini dan yang akan datang. Semoga semangat persatuan dan kecintaan terhadap ilmu yang beliau wariskan terus terjaga dan semakin menguat di bumi Tadulako. Aamin.
Penulis : NURHAINA

Komentar
Posting Komentar