Hadiah
PUISI
Aku berangkat berbekal dendam kecil
Yang dibungkus rapih atas nama ambisi
Dengan secukupnya tabah diselipkan ibu pada kantongku
Dan "Sabar" tanpa bukti dari pasangannya yang bagaikan patung bisu
Telah berlalu puluhan tahun, ku pikir berubahlah ceritaku membaik.
Mestinya demikian, nyatanya gilanya masih yang kesekian.
Kutanyakan pada ibu,
tidakkah lelah ia disuapi sabar saban waktu?
Biarku bayar dengan langkah yang selalu kau doakan lapang.
Ku pertontonkan pada setiap kepala yang kutemui di sana, inilah ambisi yang berisi dendam di dasarnya.
Jika harus berdosa, tidak akan ku resah. Selagi pada ujung kalimatnya berjudul "untuk ibuku tercinta"
Haruskah lagi ku pinta doa yang sama pada tuhan? Meminta orang itu abadi seperti aku meminta ibu abadi.
Penulis : Nur Haliza

Komentar
Posting Komentar