Sekar dan Bayarannya
CERPEN
“Wah, gila. Gue diprank, nih, kayaknya,” keluh seorang gadis dengan wajah lelahnya. Gadis bernama Alantta Amanda itu berhenti sejenak setelah berjalan kurang lebih dua kilometer dari pusat kota, hanya untuk mencari taman bunga yang katanya tersembunyi namun sangat indah. Gadis berusia 25 tahun itu ingin ke sana untuk mencari lokasi perekaman film.
Tak lama setelah Alantta beristirahat dan duduk di batang pohon tumbang di hutan itu, ia melihat seekor kupu-kupu yang begitu indah, berwarna merah dengan sayap berkilauan. Kupu-kupu itu hinggap di baju Alantta yang juga berwarna merah. Namun, tak lama kemudian, kupu-kupu itu terbang, membuat Alantta mengejarnya.
Saat Alantta berlari, kakinya tak sengaja terbentur batu dan membuatnya terjatuh. Kupu-kupu itu pun terbang entah ke mana, sedangkan Alantta tersesat di tempat yang bahkan belum pernah ia lihat sebelumnya.
⸻
Enam Tahun Sebelumnya…
Sorakan dan tepuk tangan mendominasi aula kampus. Suara itu muncul karena Alantta baru saja menjawab pertanyaan dari salah satu dosen dalam acara pengenalan budaya akademik dan kemahasiswaan. Alantta menjadi salah satu pesertanya. Semua perhatian tentu saja tertuju padanya. Selain parasnya yang menarik, pemikiran dan kecerdasannya sangat layak untuk diapresiasi.
Alantta memang sering menjadi pusat perhatian karena ambisinya dalam dunia akademik. Walaupun ia sedikit kesulitan menyimpan banyak informasi, semuanya bisa ia tutupi dengan keberanian dan ambisinya.
Beberapa bulan berlalu. Kini, Alantta mulai bisa menyesuaikan diri. Ia cukup dikenal oleh mahasiswa dari jurusannya maupun dari organisasinya. Ia dikenal bukan tanpa alasan—Alantta dikenal rajin dan cerdas baik di kelas maupun dalam organisasi.
“Ayo ke kantin! Gue lapar banget, anjir,” celetuk Hinata, salah satu sahabat Alantta yang kerap kelaparan usai kelas. Hinata juga tinggal bersama Alantta dan Yaya di sebuah kontrakan kecil dekat kampus. Sedikit lucu, karena Hinata dan Yaya bertubuh mungil, sedangkan Alantta tinggi dan berisi, seolah-olah ia terlihat seperti ibu dari dua anak.
Mendengar ucapan Hinata, mereka bertiga pun mengikuti ajakannya. Tak terkecuali Najla yang senang ke kantin karena berharap bertemu pria-pria tampan.
Setelah duduk di kantin, perhatian Alantta teralihkan kepada seorang pria bertubuh tinggi dan berparas menawan yang sedang berjalan di pelataran. Namanya Raka Dirgantara. Berbeda dengan Alantta dan teman-temannya yang berasal dari jurusan Sastra, Raka berasal dari jurusan Hukum. Mereka sudah saling mengenal sejak bergabung di organisasi Bahasa di kampus. Alantta sering membantu Raka menyelesaikan tugas organisasi.
“Hai, Najla!” sapa Raka sambil merebut minuman Alantta dan menyuruh Najla bergeser agar ia bisa duduk di samping Alantta.
“Lo kapan sih enggak ngeselin?” Alantta tentu saja kesal dengan perlakuan Raka. Ia merebut kembali minumannya, membuat Raka tertawa ringan.
“Kalian lucu banget, tau. Kenapa enggak jadian aja sih?” kata Yaya yang tak tahan melihat interaksi menggemaskan mereka.
Alantta dan Raka terdiam. Alantta tahu betul bahwa gerak-gerik Raka menunjukkan ia menyukainya. Bahkan semua sahabat Alantta menyuruhnya lebih peka. Namun bukan berarti Alantta tak peka—ia hanya nyaman jika mereka tetap menjadi teman.
Kalau ditanya apakah Alantta menyukai Raka, ia tak bisa berbohong bahwa ada perasaan itu. Namun menurutnya, rasa itu belum cukup besar untuk dikatakan cinta. Bahkan, terkadang Alantta risih dengan perlakuan Raka. Sedangkan Raka? Lelaki itu jelas sangat menyukai Alantta. Sikapnya yang perhatian dan penuh pengorbanan membuktikan segalanya.
Pernah suatu ketika Alantta membohongi Raka bahwa ia masuk rumah sakit, hanya karena ingin tidak dihubungi. Raka yang saat itu berada di luar kota, langsung pulang dengan panik untuk menjenguknya. Ketika tahu itu hanya kebohongan, Raka tidak marah sedikit pun.
Banyak pengorbanan yang Raka berikan untuk mendapatkan hati Alantta. Sedangkan Alantta? Ia hanya tahu belajar dan bermain dengan teman-temannya. Tidak ada sedikit pun usaha yang ia berikan kepada Raka.
Suatu hari, setelah acara penyambutan mahasiswa baru, Raka mengajak Alantta berjalan-jalan sore mengelilingi kota Jakarta seperti biasanya.
“Atta, lu tuh sebenarnya suka cowok enggak sih?” tanya Raka ketika mereka singgah di sebuah perpustakaan.
Alantta mengambil salah satu buku di rak dan duduk di kursi, “Pertanyaan yang enggak masuk akal, tahu enggak.”
“Terus, lu suka sama siapa? Kenapa gue enggak pernah denger lu deket sama siapa gitu? Oh ya, terakhir tuh sama senior, kan?”
Alantta memutar bola matanya. Ah, pertanyaan menyebalkan. Hubungannya dengan senior itu hanya kebodohan mahasiswa baru. Ia pacaran hanya karena kasihan, dan akhirnya putus karena seniornya berselingkuh.
“Lu mending diam deh, Raka. Gue itu masih normal. Gue bisa suka sama cowok… asal bukan lu,” ucap Alantta meledek, membuat hati Raka perih.
Raka terdiam, hingga mereka pulang. Sejak itu, Raka mulai menjauh. Awalnya Alantta biasa saja karena fokus pada kuliah dan organisasi, tapi lambat laun ia mulai bertanya-tanya, mengapa Raka menghilang?
Hingga suatu ketika Alantta melihat Raka berpelukan dengan seseorang di pantai yang sering mereka kunjungi—Mentari, teman mereka di organisasi. Alantta hancur. Kenapa Raka berpaling? Ia merasa dikhianati, walau hubungan mereka belum pernah resmi.
Seminggu setelah kejadian itu, Alantta menceritakannya kepada teman-temannya.
“Ya, lu sih bodoh banget. Udah dikasih segalanya malah enggak peka. Sekarang udah diambil orang baru deh nyesel,” kata Hinata disambut tawa mereka.
“Tenang aja, Atta. Pacarnya sekarang enggak ada apa-apanya dibanding lu. Gue yakin, kalau Raka tahu lu sedih gini, dia bakal balik lagi,” tambah Najla yakin.
Benar saja. Setelah Najla memberitahu Raka soal perasaan Alantta, kabar bahwa Raka putus dengan Mentari tersebar. Tak lama, Raka menghubungi Alantta kembali. Ia senang, walau merasa egois karena bahagia atas perpisahan orang lain.
Di kesempatan kedua, Alantta mulai menyadari bahwa perasaannya pada Raka mulai tumbuh. Namun, kebahagiaan itu semu. Raka mulai posesif dan melarangnya dekat dengan lelaki lain. Perlahan, Alantta mulai berubah. Tugas kuliah terbengkalai. Ia kehilangan ambisi karena sangat tenggelam dengan perasaanya.
Alantta, yang dikenal sebagai mahasiswa enerjik dan mudah bergaul dengan siapa saja, kini berubah menjadi sosok yang asing bagi teman-temannya. Bahkan, hubungan pertemanan mereka mulai renggang karena Alantta semakin jarang bergabung dalam mengerjakan tugas bersama.
“Lu udah beda ya sekarang, Atta,” ucap Najla saat mengerjakan tugas.
“Iya, gue kira lu sama Raka makin rajin. Mana Alantta yang gue kenal?” tambah Yaya.
Alantta terdiam. Ia juga bingung dengan dirinya sendiri.
⸻
Semester Tiga Berakhir
Walaupun banyak yang tak suka, karena membawa kerugian, cinta mereka makin tumbuh, walau tanpa status yang jelas. Sebenarnya Raka selalu mengajaknya untuk berpacaran namun, Alantta selalu saja menolaknya. Siang itu, mereka mengunjungi taman liar di belakang rumah Raka.
“Kalau taman ini dirawat dan ditanami bunga, pasti keren banget,” kata Alantta sambil berbaring di rerumputan.
“Ya udah, nanti aku tanami berbagai bunga di sini, biar kamu bisa lihat setiap kamu capek,” jawab Raka.
Alantta tersenyum. Raka ikut berbaring disampingnya; mereka menatap langit yang begitu indah walaupun terik.
“Raka, kamu punya enggak impian soal rumah tangga nanti?”
“Mau punya tiga anak dan satu istri cantik.”
Alantta tersenyum membayangkan dirinya jadi istri itu.
“Kalau kamu, Atta?”
“Aku pengin punya rumah tangga setelah lulus S2. Mau kerja dan punya rumah dulu.”
Raka mengernyit. “Lah, untuk apa perempuan kuliah dan kerja kalau udah ada suami? Istri mah di rumah, ngurus anak dan rumah. Itu kodratnya perempuan.”
Sekejap memori Alantta berputar. Ia ingat cita-citanya. Ia berdiri dan pergi seraya mengusap air matanya. Cinta telah membuatnya kehilangan jati diri.
⸻
Setelah pengumuman nilai semester tiga, nilai Alantta turun drastis. Beasiswanya dicabut. Ia sadar: “Kesepian adalah harga yang harus dibayar demi cita-cita. Ilmu dan maksiat tak pernah bersatu.”
Ia perlahan meninggalkan Raka. Kalau bisa diulang, ia ingin ikhlas melihat Raka bersama Mentari.
Sebelum mengakhiri segalanya, Alantta berkata, “Semoga cintamu yang besar itu bisa bertemu orang yang tepat, ya.”
Perlahan, ambisi Alantta terhadap pendidikan kembali mendominasi pikirannya. Cita-cita yang sempat terkubur oleh cinta, kini kembali tumbuh dan menguat. Ia sadar, bahwa suatu hari nanti, cinta yang lebih berkualitas akan datang dengan sendirinya—bukan dengan paksaan, bukan dengan kehilangan arah.
Untung saja, ia cepat menyadari bahwa tujuan awal hidupnya bukan sekadar jatuh cinta. Ia menginginkan kehidupan yang tertata, terencana, dan membanggakan.
Kini, penyesalan menghampiri Alantta. Ia menyesali bagaimana cinta telah membutakannya hingga mengorbankan pendidikan, bahkan persahabatan. Ia terlalu naif dalam mengelola perasaannya sendiri.
Raka memang penting. Tapi Alantta pun tak kalah penting. Pelan-pelan, ia mengambil langkah berani: meninggalkan Raka, hubungan yang belum sempat benar-benar dimulai. Andai waktu bisa diputar, mungkin ia akan memilih untuk lebih ikhlas saat melihat Raka berpacaran dengan Mentari.
Setelah keputusan itu, Raka sempat berusaha menghubunginya, namun Alantta terus menjauh. Ia memutus kontak demi menjaga hatinya sendiri. Perlahan tapi pasti, kedamaian dalam hidupnya mulai kembali. Meskipun ada sedikit perih karena kehilangan—kehilangan cinta dan juga seorang sahabat—ia tahu ini adalah harga yang harus dibayar untuk masa depan yang ia impikan.
Mungkin, cinta mereka kandas hanya karena waktu yang kurang tepat. Mungkin, suatu saat nanti, Alantta akan bertemu dengan cinta yang berkualitas dengan waktu dan orang yang tepat.
Mungkin, karena takdir memang berpihak pada niat yang lurus, Alantta dan Raka tak pernah lagi dipertemukan dalam situasi apa pun, meskipun mereka masih berada di kampus yang sama. Waktu berjalan. Luka mereda. Rasa yang dulu disebut cinta, perlahan memudar, walau tak pernah benar-benar hilang.
⸻
Enam tahun kemudian…
Alantta, kini seorang penulis dan sutradara yang cukup dikenal di Jakarta, baru saja menyelesaikan studi magister di bidang Ilmu Sastra. Ia hidup tenang dan bahagia, meskipun masih sendiri di usia yang banyak orang anggap “ideal untuk menikah.”
Harinya kini diisi dengan kesibukan berkarya. Suatu hari, ia menelusuri hutan yang konon menyimpan taman bunga tersembunyi. Setelah tersesat karena mengejar kupu-kupu merah, ia justru menemukan pemandangan luar biasa: taman bunga yang begitu indah, penuh warna, dan dipenuhi kupu-kupu yang beterbangan.
Tanpa disangka, dari kejauhan, ia melihat seorang pria—wajahnya tak asing. Raka. Ia sedang tertawa lepas bersama seorang anak kecil dan seorang wanita. Keluarga kecil yang sederhana, namun tampak bahagia. Alantta berdiri mematung. Hatinya sesak, tapi tak pahit. Ada air mata yang jatuh, tapi juga ada senyum yang mengembang.
“Selamat menikmati kebahagiaanmu, Raka… Aku ikut bahagia. Sekarang kita impas. Aku mendapatkan sekar, walaupun tukarannya adalah dirimu.”

Komentar
Posting Komentar