Tanah yang Tak Pernah Menghianat
PUISI
Dulu, suaranya menggema di lorong-lorong kampus, menggetarkan dinding kekuasan dengan kata-kata tajam. Ia melawan bukan untuk menang, tetapi agar kebenaran punya ruang untuk bernafas.
Tawaran datang seperti air pasang
Kursi, jabatan, pena dengan cap negara.
Tapi ia tahu, kuasa adalah cermin retak
Yang sering membuat orang lupa wajah sendiri.
Maka ia pulang — bukan ke istana, melainkan
ke ladang yang perna ditinggalnya demi mimpi.
Tangan yang dulu menggengam selembaran perlawanan, kini mencangkul tanah, menanam harapan.
Orang-orang menyebutnya mundur.
Ia hanya tersenyum:
“ Lebih baik aku menanam padi,
dari pada memanen kebohongan”
Karna baginya,
Kejujuran tumbuh lebih subur di tanah yang subur
Daripada di lorong-lorong birokrasi yang penuh dusta.
Penulis : Rifal Ayuba

Komentar
Posting Komentar