Aku Dan Kenangan
PUISI
Dulu, tawa kami seperti matahari pagi,
terbit tanpa janji, tapi setia datang hari ke hari.
Langit biru menampung rahasia yang tak perlu disembunyikan,
dan luka pun terasa ringan, saat dibagi berdua, bertiga, berseribu kata.
Kami bukan saudara oleh darah,
tapi oleh tekad yang sama:
menang bersama, kalah tak apa, asal bersama.
Kopi sachet, hujan sore, dan mimpi liar jadi saksi,
bagaimana kami menenun harapan dari benang berantakan.
Namun, tak ada kompetisi yang tak menggerogoti akar.
Tak ada sorak yang tak memecah diam.
Satu mulai menghitung peran,
satu lagi menuntut panggung yang katanya dulu milik bersama.
Diam jadi senjata,
tatapan jadi luka.
Tiba-tiba, kenangan kami jadi reruntuhan:
foto yang tak lagi dikomentari,
tempat nongkrong yang kini sunyi,
janji-janji yang mati di grup yang sepi.
Kami pernah jadi tim tanpa nama,
tapi dengan hati yang sama.
Kini, kami jadi orang-orang dengan nama,
tapi tanpa sapa.
Mungkin ini bukan akhir,
tapi kami tak tahu lagi bagaimana memulai.
Menyusun kembali puing kenangan
tanpa saling menyalahkan.
Karena persahabatan kami,
bukan kalah atau menang,
tapi hilang…
di antara kontes yang tak kami sadari, sedang kami ikuti.
Akhirnya semua berpisah,
dan mengukir kenangan baru
dengan orang yang baru.
Bukan pengkhianatan,
hanya waktu yang memaksa kami tumbuh
ke arah yang tak lagi sama.
Penulis : Husnul Mawaddah

Komentar
Posting Komentar