Canggung Setelah Ego



PUISI

Dulu, tawa jadi bahasa,
tatapan mata mengerti segalanya,
tanpa perlu kata—semua terasa hangat,
seolah dunia kecil kita tak pernah retak.

Tapi waktu berubah haluan,
dan ego mereka mulai bicara lantang.
Saling ingin menang, saling ingin didengar,
tanpa peduli siapa yang terluka di belakang.

Kini, pertemuan menjadi sunyi,
senyum dipaksakan, kata-kata basi.
Kita duduk berdekatan, tapi terasa jauh,
seperti dua kapal di dermaga yang tak saling sapa.

Apa kabar ketulusan yang dulu tumbuh?
Apa kabar janji yang kita simpul rapuh?
Telah tergerus oleh ingin menjadi paling benar,
tanpa sadar, kita justru hancurkan yang paling berharga.

Canggung ini adalah puing-puing,
dari benteng yang pernah kokoh berdiri.
Bukan karena waktu yang kejam,
tapi karena ego yang tak mau berbagi ruang hati.

Dan kini, yang tersisa hanya rindu,
pada versi kita yang lebih jujur dulu.
Tapi pertemanan yang tak dijaga bersama,
hanya akan jadi kenangan yang menyiksa.



Penulis : Ahmad Fauzan.M

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jabatan Tinggi, Etika Rendah

HMPS HK Gelar Seminar Nasional: Wujudkan Generasi Melek Aturan, Anti Perundungan, dan Anti Korupsi

Datokarama Arabic Fest 2025: Malam Puncak Milad ke-28 HMPS PBA