Hanya Diri Sendiri
PUISI
Aku melipat harga diri,
serendah debu yang kau injak tanpa peduli.
Kulempar ego ke jurang dalam,
demi sisa tawa yang perlahan padam.
Aku menunduk pada waktu,
yang kau isi dengan diam dan pura-pura tak tahu.
Kubuka hati, kubuka ruang,
namun masuk tanpa niat bertandang.
Kupaksa diriku untuk tetap tinggal,
di dunia pertemanan yang timpang dan dangkal.
kalian tertawa saat aku terluka,
kalian diam saat aku bicara.
Kupikir ini ikatan,
rupanya hanya permainan.
Aku membela, kalian membiarkan.
Aku menunggu, kalian melupakan.
Tapi aku tetap diam,
bukan karena kalah,
tapi karena tak ingin marah.
Tak ingin merasa disudutkan,
tak ingin merasa tak nyaman.
Aku tahu,
beberapa kata seharusnya bisa kuucapkan.
Tapi kupilih diam—
karena aku terlalu takut kalian tersinggung,
terlalu takut kehilangan sesuatu
yang nyatanya tak pernah benar-benar menggenggamku.
Kupangkas sedikit demi sedikit harga diriku,
kuremukkan sedikit egoku.
Agar kalian bisa tetap tenang,
agar kalian merasa aman,
agar kalian tetap bisa tertawa
tanpa harus merasa kalah oleh kejujuran yang sederhana.
Tapi semakin aku mengecil demi ‘kita’ yang palsu,
semakin aku hilang dari diriku sendiri.
Dan kini aku sadar—
yang kupertahankan bukan pertemanan,
melainkan luka yang kuhaluskan dengan nama pengertian.
Kini aku berhenti.
Bukan karena benci,
tapi karena aku mencintai diriku sendiri
yang terlalu lama dibiarkan sepi
di tengah ramainya yang pura-pura peduli.
Penulis : Ahmad Fauzan.M

Komentar
Posting Komentar