Luka

 





PUISI

khusus untukmu yang pernah memberi terlalu BANYAK luka

Aku tak tahu,
sejak kapan "kita"
berubah menjadi "aku sendiri".

Mungkin sejak kata-kata tak lagi jadi jembatan,
melainkan senjata.
Atau sejak pelukan terakhir terasa
lebih dingin dari kepergian itu sendiri.

Luka tak memilih bentuk.
Kadang ia berupa suara yang tak pernah didengar,
kadang berupa janji yang digantung
hingga leherku kehabisan napas menunggu.

Pernah ada cinta yang kucurahkan tanpa hitungan,
dan tawa yang kubagi saat aku sendiri haus bahagia.
Tapi nyatanya—
orang tak selalu mencintai dengan cara yang adil.

Ada teman yang pergi saat aku runtuh,
keluarga yang memeluk sambil menyayat,
dan aku…
yang paling sering menyalahkan diri sendiri
agar semuanya terasa masuk akal.

Aku tak ingin disebut kuat.
Aku hanya terlalu sering disakiti
hingga tak ada pilihan selain tetap berdiri.

Tapi malam tahu—
aku tak sekuat yang kukatakan.
Malam tahu—
betapa aku ingin menangis tanpa harus menjelaskan apa-apa.

Luka ini bukan sekadar cerita, ia adalah ruang dalam diriku yang tak bisa diisi siapa pun,
tapi tetap aku rawat
agar aku ingat:
aku pernah memberi segalanya…
dan tetap ditinggalkan.



Penulis : Husnul Mawaddah



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jabatan Tinggi, Etika Rendah

HMPS HK Gelar Seminar Nasional: Wujudkan Generasi Melek Aturan, Anti Perundungan, dan Anti Korupsi

Datokarama Arabic Fest 2025: Malam Puncak Milad ke-28 HMPS PBA