Retret di Dalam Diri
PUISI
Aku pindah,
bukan ke kota baru,
tapi ke jarak yang tak bisa dijangkau oleh drama dan sarkasme.
Tidak ada suara
kecuali dedaunan yang berdiskusi pelan dengan angin,
dan detak jantungku yang akhirnya bicara.
Mereka bilang aku berubah.
Aku bilang: tidak, aku kembali.
Kembali ke versi diriku yang tak harus menjelaskan
mengapa diam lebih jujur dari senyum basa-basi.
Di sini,
kopi tak perlu diseduh bersama keluh,
matahari tidak dihakimi karena terlalu terang,
dan malam tidak dipaksa untuk menghibur.
Aku hidup,
bukan sekadar bertahan dari potongan kalimat beracun
yang menyamar jadi perhatian.
Kini,
aku menanam hari-hari tanpa pupuk validasi,
dan melihatnya tumbuh
menjadi taman yang hanya aku pahami.
Tak ada notifikasi
selain nyanyian hujan yang mengetuk jendela,
dan aku tak merasa bersalah
karena tidak membalas apa pun.
Hatiku bukan ruang tunggu,
bukan pula tempat sampah emosi yang dilempar acak.
Ia kini rerimbunan sunyi
yang menolak diinjak tanpa alasan.
Aku belajar
bahwa menjauh bukan kalah,
tapi cara tubuh memberi ruang
untuk sembuh tanpa sorak-sorai penonton palsu.
Dan jika suatu saat aku kembali
itu bukan undangan,
hanya jejak yang tertinggal
dari perjalanan menuju damai yang aku bangun sendiri.
Puisi : Husnul Mawaddah

Komentar
Posting Komentar