Revolusi Sunyi Dalam Diri
PUISI
Aku pernah menjadi reruntuhan,
dibangun dari harapan yang retak dan janji yang gugur,
menyimpan malam dalam dada,
dan mengikat luka seperti mahkota raja yang kalah.
Namun waktu tak menunggu yang terluka,
ia mengajarkanku:
bahwa diam bukan berarti sembuh,
dan menangis bukan satu-satunya bahasa luka.
Maka kubakar puing kenangan,
dengan api kecil: tekad.
Tak perlu disorak, tak perlu ditanya
perubahanku tak butuh panggung, cukup cermin dan doa.
Hari ini, aku adalah pagi,
yang lahir dari malam terkelam.
Langkahku tak cepat, tapi pasti,
menuju versi diriku yang belum pernah kutemui.
Bukan dunia yang harus kuubah,
tapi diriku
yang terlalu sering lupa bahwa hidup ini adalah titipan,
bukan panggung kesia-siaan.
Aku mulai merangkak,
bukan untuk dikejar orang,
tapi untuk mendekat pada Tuhan.
Meninggalkan topeng,
meninggalkan ego,
dan mengganti ambisi dengan harapan yang
bersujud.
Aku adalah revolusi
bukan gemuruh senjata,
tapi bisikan jiwa:
“Aku pantas menjadi lebih baik.”
Revolusiku bukan gemuruh kata,
tapi tenang dalam taubat.
Dan biarlah masa lalu menjadi guru,
bukan penjara.
Penulis : Husnul Mawaddah

Komentar
Posting Komentar