Sejak Di Ujung Senyap


 

PUISI

Di ujung senyap, malam menimba sunyi, angin menyapu sisa langkah yang pergi.

Langit tak banyak bicara, hanya bintang yang berkedip, seperti mata menahan tangis di tirai yang sepi.

Di balik bayang, hati bergetar, Kenangan mengalir seperti arus,  

Setiap detik, setiap rasa, Menari dalam sunyi yang membara. 

Aku menulis, bukan untuk dibaca, melainkan untuk bicara pada luka yang enggan bersuara. 

Pada hari-hari yang hanya tahu cara menghilang, dan waktu yang tak pernah benar-benar datang.

Pernahkah kau dengar, detak hati yang dipendam batu?

Ia bukan berdebar, hanya menunggu patah menjadi debu.

Sejak di ujung senyap, kupelajari bahasa diam, 

Tentang rindu yang tak sempat, tentang harap yang pelan tenggelam.

Kini aku dan bayang saling menggenggam,

menjadi saksi:

bahwa diam pun bisa menjerit lebih keras dari perang.


Penulis : Husnul Mawaddah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jabatan Tinggi, Etika Rendah

HMPS HK Gelar Seminar Nasional: Wujudkan Generasi Melek Aturan, Anti Perundungan, dan Anti Korupsi

Datokarama Arabic Fest 2025: Malam Puncak Milad ke-28 HMPS PBA