Mahkotamu Dan Kanvasku
PUISI
Kilau cahaya jingga pantuli wajahmu.
Kau bunuh waktu saat genggam jariku.
Matahari hilang bersama janjimu.
Tersisa lukisan jejak telapakmu.
Begitu cepat kencangnya kudamu meninggalkan gubukku.
Mahkotamu putri, usirku yang dungu.
Tak pantasku seorang pujangga kumuh mencium tanganmu.
Tak dapat ku pungkiri, bercak darah di gaunmu ialah salahku.
Kala ku ingin berkelana mencari arti, ku berpamit.
Bahkan mataku yang memohon belas kasihmu tak kau pandang walau sekali.
Sementara kuda kupacu ditengah terik matahari.
Engkau tabur garam di lukaku, tuan putri tidakkah itu sadis?
Engkau bincang pada semua orang.
"Aku pernah bunuh pujangga itu yang bahkan tak percaya pada seseorang".
"Kubakar semua syair yang diberikan hingga menjadi arang"
"Jika sejengkalpun mendekatiku, demi dewi athena akan aku larang".
Lantas untuk apa kau selimuti saat aku dingin?
Kau membuat badanku membeku saat kusadari.
Kau menipuku telah lama dan sudah sedari
Kala kau lukis jemari.
Penulis : Gading Siliwangi

Komentar
Posting Komentar