Antara Hasrat untuk Belajar dan Pandangan Miring: Ketika Niat Tumbuh Justru Dianggap Sebagai Kepentingan
OPINI - Dalam perjalanan hidup, setiap anak muda yang memiliki hasrat untuk tumbuh dan belajar pasti membutuhkan sosok untuk diteladani. Ia mencari arah, tempat berpijak, dan contoh nyata tentang bagaimana menjadi seseorang yang berguna bagi lingkungannya. Ia mungkin menemukan semua itu dalam sosok pemimpinnya bukan karena ingin menumpang nama, apalagi berharap warisan jabatan melainkan karena ia melihat nilai, dedikasi, dan kebijaksanaan yang patut dipelajari.
Namun, dunia tak selalu memahami niat baik dengan cara yang sederhana. Ketika seseorang terlalu sering terlihat mengikuti pemimpinnya, meneladani langkahnya, bahkan sekadar mendengar nasihatnya, pandangan miring pun muncul. Orang-orang mulai berbisik: “Ia dekat karena ingin menggantikan,” atau lebih buruk lagi, “itu bentuk nepotisme.” Padahal, tak semua kedekatan lahir dari ambisi. Ada kedekatan yang tumbuh dari rasa kagum dan semangat belajar.
Refleksi ini mengajak kita merenungkan: sejak kapan belajar dianggap salah? Sejak kapan meneladani dianggap sebuah dosa sosial? Di banyak ruang kehidupan, tradisi belajar dari seorang patron atau guru merupakan bagian penting dari proses pendewasaan. Seorang murid tidak akan menjadi bijak tanpa meniru langkah-langkah gurunya. Seorang pemimpin yang baik pun tidak lahir tiba-tiba — ia tumbuh karena ada sosok yang pernah menuntunnya.
Padahal, belajar dari seorang pemimpin bukan berarti mencari keuntungan pribadi. Justru di situlah bentuk nyata dari semangat kaderisasi bagaimana generasi muda berupaya menimba ilmu, memahami realitas, dan menyiapkan diri agar estafet perjuangan tidak terputus. Mereka yang mau belajar dengan rendah hati seharusnya diberi ruang, bukan dicurigai.
Di Cap “nepotisme” yang disematkan tanpa dasar justru memperlihatkan betapa seringnya kita gagal membedakan antara loyalitas untuk belajar dan loyalitas untuk kepentingan pribadi. Dalam tradisi kepemimpinan yang sehat, seorang murid tentu dekat dengan gurunya; seorang kader tentu belajar dari pemimpin sebelumnya. Itulah proses alami dalam setiap dinamika pembelajaran sosial dan organisasi.
Karena itu, sebelum menuduh seseorang dengan label yang merendahkan, sebaiknya kita bertanya dulu: apakah dia benar-benar mencari keuntungan pribadi, atau justru sedang berusaha menjadi penerus yang siap mengabdi? Jangan sampai semangat belajar yang murni justru padam oleh pandangan sempit dan prasangka sosial.
Penulis : Ismail k.a.Tjakunu

Komentar
Posting Komentar