Jabatan Tinggi, Etika Rendah



OPINI — Di lingkungan kampus, jabatan sering kali dipahami sebagai amanah. Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit yang memperlakukannya sebagai hak istimewa. Ketua, koordinator, atau pengurus inti kampus kerap tampil sebagai figur teladan. Sayangnya, di balik rapat-rapat formal dan jargon “kekeluargaan”, kuasa justru acap kali disalahgunakan.

Atas nama kedekatan dan solidaritas organisasi, batas etika sering dikaburkan. Candaan yang tidak pantas disebut sebagai keakraban, pesan pribadi yang melampaui batas dianggap perhatian, dan tekanan psikologis dibungkus rapi dengan istilah “pembinaan”. Aneh memang, bagaimana pelecehan bisa berganti nama menjadi kepedulian hanya karena pelakunya memiliki jabatan.

Lebih ironis lagi, para pemegang kuasa ini sering tampil paling vokal ketika berbicara tentang moralitas dan integritas. Nilai-nilai luhur hanya berlaku saat mikrofon menyala dan kamera mengarah ke mereka. Kuasa tanpa etika bukanlah kepemimpinan, melainkan dominasi yang dibungkus rapi dengan seragam organisasi.

Menurut saya, jika organisasi kampus ingin tetap relevan sebagai ruang pembelajaran, maka para pemegang kuasa perlu bercermin. Sebab, organisasi yang membiarkan pelecehan atas nama kepemimpinan bukan sedang mencetak pemimpin masa depan, melainkan mengulang pola kekuasaan yang selama ini kita kritik.


Penulis : Nira Riarni

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HMPS HK Gelar Seminar Nasional: Wujudkan Generasi Melek Aturan, Anti Perundungan, dan Anti Korupsi

Datokarama Arabic Fest 2025: Malam Puncak Milad ke-28 HMPS PBA