Ketika Diam Disucikan, Diskusi Kehilangan Nyali
OPINI - Perbedaan pendapat wajar dalam diskusi. Masalah muncul ketika diam dipandang sebagai pilihan paling rasional, dewasa, atau bermoral. Jürgen Habermas menekankan bahwa rasionalitas publik lahir dari komunikasi terbuka, bukan penarikan diri.
Mengagungkan diam sebagai kemenangan intelektual menyamakan kegaduhan dengan kebodohan dan keberanian berpendapat dengan ketidakmatangan. Padahal, sejarah pemikiran—from Socrates hingga tradisi dialektika—menunjukkan gagasan tumbuh dari benturan pikiran, bukan keheningan yang disengaja.
Menghindari diskusi karena menganggap lawan tidak rasional bukan kecerdasan, tapi penghakiman sepihak. Karl Popper menegaskan, kebenaran hanya dapat diuji melalui kritik. Diam yang merasa lebih rasional justru menghindari tanggung jawab intelektual.
Diskusi hidup dari kekurangan, bantahan, dan kesalahan yang diuji bersama. Dalam semangat dialektika Plato, kebenaran muncul sebagai proses, bukan finalitas. Diam sebagai standar moral justru membuat ruang diskusi sunyi dan elitis. Hannah Arendt mengingatkan, ketidakadilan sering bertahan karena terlalu banyak orang memilih tidak terlibat.
Menjaga akal tidak berarti menutup mulut. Paulo Freire menyebut dialog sebagai prasyarat kesadaran kritis. Rasionalitas lahir dari keberanian berbicara, mendengar, dan berdebat secara terbuka.
Diam bisa menjadi pilihan, tapi menjadikannya standar moral justru berbahaya. Ketika semua memilih diam, ruang publik akan diisi suara paling keras, bukan argumen paling benar. Dalam dunia penuh opini, masalahnya bukan terlalu banyak orang bicara, tapi terlalu banyak orang pintar yang menarik diri.
Pada titik itu, diam bukan lagi kebijaksanaan, melainkan kenyamanan yang menyamar sebagai kecerdasan.
Penulis : Abyan Cezhar Setiawan

Komentar
Posting Komentar