Semakin Dikeritik, Semakin Dimatikan
OPINI - Demokrasi Indonesia hari ini masih berdiri secara prosedural, tetapi perlahan kehilangan nyawanya. kritik— yang notabenenya sebagai jantung demokrasi—justru semakin sulit bernapas. Semakin keras disuarakan, semakin cepat pula upaya untuk mematikannya.
Kritik tidak lagi dipandang sebagai bentuk kepedulian, melainkan dicurigai sebagai ancaman. Suara rakyat yang mempertanyakan kebijakan sering kali dijawab bukan dengan dialog, tetapi dengan pembenaran, stigma, bahkan tekanan. Demokrasi yang seharusnya hidup dari perbedaan pendapat, kini justru tampak nyaman dalam keseragaman yang dipaksakan.
Ketika kritik dimatikan, yang sebenarnya mati bukan hanya suara, tetapi juga nalar publik. Rakyat dipaksa memilih diam atau berisiko. Akibatnya, ruang diskusi menyempit dan keberanian untuk bersuara berubah menjadi ketakutan kolektif. Negara mungkin terlihat stabil, tetapi stabilitas itu berdiri di atas sunyi yang rapuh.
Demokrasi semacam ini berbahaya. Sebab kekuasaan yang tak mau dikritik cenderung kehilangan kemampuan mengoreksi diri. Kesalahan yang seharusnya diperbaiki justru diulang, karena tak ada suara yang cukup kuat untuk mengingatkan. Dalam kondisi seperti ini, pemerintah bukan hanya berjarak dari rakyat, tetapi juga dari realitas.
Penulis : Muhammad Al-Muqiit

Komentar
Posting Komentar