Catatan untuk Diri yang Hampir Menyerah
PUISI - Wahai diriku yang sedang tertunduk lesu,
yang bahunya terasa berat memikul beban semesta,
aku tahu, lelahmu bukan sekadar rasa kantuk,
tapi letih yang menembus hingga ke sumsum tulang
dan mengikis retakan kecil di dinding hatimu.
Aku tahu rasanya ingin berhenti berjalan,
duduk di pinggir jalan, membiarkan debu kegagalan menutupimu,
dan perlahan menghilang dari pandangan dunia.
Aku tahu rasanya ingin menyerahkan kunci pada nasib,
dan berbisik, "Aku tidak sanggup lagi."
Namun, di detik paling gelap sebelum fajar,
kusisipkan catatan kecil ini di saku kemejamu.
Tarik napas, pelan-pelan saja.
Puisi ini bukan untuk memaksamu berlari,
tapi untuk memohon agar kau tidak benar-benar berhenti.
Ingatlah, bintang-bintang tidak berebut cahaya; mereka hanya bersinar saat malam tiba.
Begitu juga denganmu. Kekuatanmu bukan pada seberapa cepat kau sampai,
tapi pada seberapa sering kau bersedia bangkit setelah terjatuh,
meski dengan lutut yang gemetar dan air mata yang mengaburkan pandangan.
Hari ini, jadilah lembut pada dirimu sendiri.
Jika satu langkah terasa terlalu jauh, ambillah satu napas saja dulu.
Jika seribu kata terasa terlalu berat, diamlah sejenak.
Menyerah adalah akhir dari semua cerita indah yang belum sempat kau tulis.
Tapi bertahan satu hari lagi... itu adalah kemenangan terbesar.
Percayalah, angin akan berubah arah.
Dan suatu hari nanti, kau akan menoleh ke belakang,
pada momen ini, pada catatan ini,
bukan dengan rasa perih, tapi dengan senyum tipis,
dan berbisik pada bayanganmu,
"Terima kasih, karena dulu kita tidak benar-benar menyerah."
Penulis : Muhammad Jibril Paendong

Komentar
Posting Komentar