Leiden is lijden
OPINI - “Leiden is lijden” bukan sekadar kalimat puitis itu tamparan keras bagi siapa pun yang ingin duduk di kursi kekuasaan. memimpin itu bukan soal siap capek tapi siap jadi sasaran, Jabatan itu bukan kehormatan itu utang yang harus dibayar dengan tekanan.
Banyak orang naik jadi pemimpin dengan ambisi, tapi runtuh saat realita datang. Mereka ingin kuasa tanpa luka, ingin dihormati tanpa diuji. Padahal, begitu kamu memimpin, kamu bukan lagi milik diri sendiri, kamu jadi tempat orang melampiaskan harap, marah, dan kecewa.
“Leiden is lijden” bukan tentang siapa yang paling kuat menahan sakit, tapi siapa yang tetap waras saat dihantam kritik, tetap adil saat punya kuasa, dan tetap berdiri saat semua orang siap menjatuhkan, karna seperti yang kita ketahui seorang pemimpin itu dipilih agar bisa melayani rakyatnya dengan baik bukan untuk di layani rakyatnya dengan baik.
Kalau “menderita” hanya dijadikan slogan, itu munafik. Karena penderitaan dalam kepemimpinan bukan soal drama, tapi soal konsekuensi. setiap keputusan punya korban, setiap diam punya dampak, dan setiap ego bisa menghancurkan banyak orang.
Karena realitanya, pemimpin itu sering sendirian saat mengambil keputusan, tapi tidak pernah sendiri saat menerima akibatnya.
Dan pada akhirnya yang harus kita pahami pemimpin dipilih untuk naik keatas agar bisa melihat rakyatnya dari atas ke bawah bukan untuk dilihat rakyatnya dari bawah ke atas.
Penulis : Ahmad Sofyan Affandi

Komentar
Posting Komentar