Membenarkan Yang Salah
OPINI - Kalimat "membenarkan yang salah" sering kali muncul karena kita lebih mengutamakan kenyamanan sosial daripada kejujuran. Ketika sebuah kesalahan dilakukan secara berulang oleh banyak orang, kita cenderung menormalisasinya agar tidak dianggap terlalu kaku. Padahal, memaklumi kesalahan demi solidaritas kelompok hanya akan mengaburkan batasan dan perlahan merusak integrasi diri serta lingkungan sekitar.
Lebih, jauh lagi, kebiasaan mencari pembenaran atas kesalahan akan menciptakan standar moral yang ganda dan tidak sehat. Saat kita mulai memanipulasi logika untuk membela hal yang keliru, kita sebenarnya sedang menanamkan pola pikir bahwa hasil akhir lebih penting daripada cara yang benar. Jika terus dibiarkan, budaya ini akan melahirkan generasi yang kehilangan kompas moral dan lebih memilih validasi semu daripada kebenaran nyata.
Penulis : Umi Pebriani

Komentar
Posting Komentar