Tentang Rasa yang Sendiri
PUISI - Kuberi namamu pada doa yang paling diam,
Kusimpan senyumku di sela namamu yang tak pernah panggil.
Kau hadir seperti hujan di jendela,
Kulihat, kudengar, tapi tak bisa kusentuh.
Aku tahu, hati bukan parkiran,
Tak bisa kupaksa kau tinggal karena aku kosong.
Kau punya arahmu sendiri,
dan sayangnya, tak sejalan denganku.
Sakit? Iya.
Tapi lebih sakit kalau kau bertahan hanya karena kasihan.
Aku mau dicintai, bukan dikasihani.
Mau dipilih, bukan sisa.
Jadi biar kulepas pelan-pelan,
bukan karena menyerah mencintai,
tapi karena akhirnya aku belajar
mencintai diriku sendiri.
Penulis : Miftahul Jannah
Terima kasih sudah jujur.
Terima kasih sudah tidak memberi harapan palsu.
Kalau suatu hari langkah kita temu lagi,
semoga saat itu dua-duanya sudah mau.
Kalau tidak, biar rasa ini pulang,
jadi puisi, bukan luka.

Komentar
Posting Komentar