Solidaritas Timur Bergerak, Mahasiswa UIN Datokarama Kupas Isu Papua Lewat Film
Palu — Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI) UIN Datokarama Palu menggelar kegiatan nonton bareng dan diskusi film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita Ini” di La Crema Cafe, Senin (18/05/2026).
Kegiatan dimulai pukul 19.30 WITA dan terbuka untuk umum sehingga dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai kalangan serta masyarakat umum.
Acara ini juga merupakan hasil kolaborasi bersama SEMA FDKI, Forkomnas KPI Wilayah 5 Sulawesi, Maluku, dan Papua, serta HMPS KPI, BKI, dan PMI UIN Datokarama Palu.
Selain pemutaran film, kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Koordinator BEMNUS Sulawesi Tengah, Ketua Asosiasi Jurnalis Masyarakat Adat Nusantara Sulawesi Tengah, serta Pengurus Pusat BEMNUS Bidang Lingkungan Hidup, dalam membangun diskusi bersama.
Muhammad Rifal Ayuba selaku ketua DEMA FDKI menjelaskan bahwa kegiatan nobar dan diskusi film Pesta Babi dilaksanakan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap isu-isu sosial yang terjadi di Papua serta menumbuhkan solidaritas terhadap masyarakat di kawasan timur Indonesia.
“Tujuan dari kami di DEMA FDKI sendiri, bersama kolaborasi dengan teman-teman di tingkatan lembaga Ormawa Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam, yang paling penting adalah kami membuat nobar ini bukan untuk FOMO. Tetapi, bagaimana kegiatan ini menjadi ruang bagi teman-teman untuk mempelajari isu-isu yang terjadi di Papua. Hari ini teman-teman bukan hanya berpatok pada isu nasional saja, tetapi juga pada isu-isu daerah, bahkan yang sangat berdekatan dengan kita. Apalagi kita berhimpun dalam satu Solidaritas Timur, maka kita harus mengetahui apa yang terjadi di Papua Selatan sana,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa isu sosial penting dipahami karena masih banyak ketimpangan yang terjadi, baik di Papua maupun di Sulawesi Tengah sendiri. dan kegiatan ini diharapkan dapat menjadi pemicu agar mahasiswa lebih peduli dan peka terhadap persoalan sosial di sekitar.
“Saya rasa sangat penting bagi kita untuk memahami isu sosial, karena masih banyak ketimpangan yang terjadi. Bahkan dalam buku Pendidikan Kaum Tertindas dijelaskan bahwa pendidikan bisa menjadi alat penindasan ataupun alat pembebasan. Karena itu, melalui nobar dan diskusi ini, kami berharap teman-teman bisa lebih peduli dan lebih peka terhadap isu sosial, baik yang terjadi di Papua maupun di Sulawesi Tengah," ujarnya.
Terakhir, Rifal berharap hasil diskusi dari kegiatan nobar dapat berkembang menjadi diskursus yang melahirkan gerakan serta konsolidasi mahasiswa dalam menyikapi berbagai ketimpangan sosial.

Komentar
Posting Komentar