Sahabat Sejati
Sahabat Sejati
Di sebuah sekolah menengah di kota kecil, hiduplah tiga sahabat: Muslih, Ibrahim, dan Dika. Mereka sudah berteman sejak kecil, namun dalam persahabatan itu, Dika selalu merasa berbeda.
Dika memiliki sedikit keterlambatan dalam berpikir. Ia tidak secepat muslih dalam memahami pelajaran, tidak selincah Ibrahim dalam berolahraga, dan sering menjadi bahan ejekan teman-teman di sekolah—terutama oleh Dimas, anak paling nakal di kelas mereka.
Dimas, Si Tukang Bully
Suatu siang di kantin, Dika duduk sendiri dengan makanannya. muslih dan ibrahim baru saja pergi membeli minuman ketika tiba-tiba Dimas datang bersama Temannya.
“Hei, si culun! Lagi makan? Kok sendirian?” ejek Dimas sambil mengambil makanan dari tangan Dika Tanpa meminta.
Dika menunduk, tidak berani melawan.
Dimas tertawa sinis. “Makanannya juga kayak otaknya, lemot!” katanya sambil menjatuhkan Makanan Dika ke lantai.
Anak-anak lain tertawa, tapi tidak dengan muslih yang baru datang dan melihat kejadian itu.
Dimas menyeringai. “Kenapa? Mau belain si lemot ini?” katanya sambil mendorong Dika hingga jatuh.
muslih, yang juga ada di sana, bukannya ikut membantu tetapi hanya menepuk bahu Dika dengan lembut. “Sabar, Dik. Jangan lawan mereka,” katanya pelan.
ibrahim menatap muslih dengan kesal. “Bay, sampai kapan kita biarin Dika terus dibully?”
Muslih menghela napas. “Kadang, sabar lebih baik daripada melawan.”
Dika menatap sahabatnya itu dengan sedih. Ia ingin melawan, tapi ia tahu dirinya tidak cukup kuat.
Belajar untuk Tidak Takut
Sejak kejadian itu, Dika semakin sering dibully oleh Dimas. Setiap kali ia mengadu, muslih hanya menyuruhnya untuk bersabar. Namun, ibrahim tidak setuju.
“Kamu nggak boleh terus diam, Di! Kalau kamu terus sabar, mereka akan semakin menjadi-jadi!” kata Raka suatu hari.
“Tapi… aku takut…” gumam Dika.
Ibrahim menghela napas. “Kalau kamu terus takut, mereka akan terus menang. Kamu harus berani!”
Kata-kata Ibrahim membuat Dika berpikir. Ia sadar, selama ini ia selalu memilih diam karena takut. Tapi sampai kapan?
*Akhir dari Ketakutan*
Keesokan harinya, saat Dika berjalan, Dimas kembali menghadangnya.
“Mau ke mana, si Culun?” ejeknya sambil menarik tas Ardi.
Biasanya, Dika akan diam dan menerima ejekan itu. Tapi kali ini, ia mengumpulkan keberaniannya dan menatap Dimas.
“Aku bukan lemot!” katanya dengan suara lantang.
Dimas terkejut. Ia tidak menyangka Dika akan melawan.
ibrahim tersenyum bangga di kejauhan, sementara Muslih hanya mengangguk kecil, seolah berkata, Bagus, Dika. Akhirnya kamu berani.
Sejak hari itu, meskipun Dimas masih mencoba mengganggunya, Dika tidak lagi takut. Ia tahu bahwa sahabat sejati bukan hanya mereka yang selalu membelanya, tapi juga mereka yang mengajarkannya untuk berani membela dirinya sendiri.
Written by: Kahar Andika
Nim:244100056

Komentar
Posting Komentar