Di Antara Kepedulian dan Kewarasan: Dilema Anak Muda di Tengah Banjir Kasus


OPINI - Saat ini, kita dihadapkan pada berbagai kasus yang viral di media. Kasus-kasus tersebut tentu menimbulkan kemarahan, simpati, serta dorongan untuk ikut berpendapat dan mengkritisi. Di tengah kondisi ini, keresahan saya sebagai bagian dari generasi muda mulai muncul.

 Sebagai anak muda, khususnya mahasiswa, kita sering kali merasa memiliki tanggung jawab untuk ikut menyuarakan dan mengawal setiap kasus yang terjadi. Namun, realitanya dalam satu hari kita bisa dihadapkan pada tiga hingga empat kasus sekaligus yang semuanya seolah menuntut perhatian dan respons kita.

 Hal ini kemudian menjadi tekanan tersendiri. Anak muda dituntut untuk selalu peduli, bahkan diukur dari seberapa “update” mereka terhadap isu yang sedang viral. Tidak jarang, mereka yang tidak mengikuti perkembangan dianggap tidak peduli terhadap kondisi sosial.

 Pertanyaannya, apakah kita benar-benar mampu menyuarakan semua hal secara bersamaan? Apakah kita bisa mengawal setiap kasus hingga tuntas? Dan yang lebih penting, apakah kita sanggup menanggung beban emosional dari semua informasi tersebut sekaligus?

 Menurut saya, kepedulian tetaplah penting. Namun, menjaga kewarasan dan kesehatan mental tidak kalah pentingnya. Pada dasarnya, kita adalah manusia biasa, bukan sosok yang mampu menampung seluruh beban informasi tanpa batas. Arus berita yang terus-menerus, terutama yang sarat emosi, dapat menguras energi dan berdampak pada kondisi psikologis kita.

 Oleh karena itu, tidak perlu merasa takut dicap tidak peduli hanya karena tidak selalu mengikuti setiap perkembangan. Membatasi diri dari arus informasi bukanlah bentuk ketidakpedulian, melainkan upaya untuk menjaga diri agar tetap sehat secara mental. Dengan kondisi yang stabil, kita justru bisa berkontribusi secara lebih bijak dan berkelanjutan.

 Pada akhirnya, kepedulian yang sehat adalah kepedulian yang disertai kesadaran akan batas diri. Karena hanya dengan menjaga diri, kita dapat terus hadir dan menyaksikan keadilan benar-benar ditegakkan.

Penulis : Vera Sapriani Putri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jabatan Tinggi, Etika Rendah

HMPS HK Gelar Seminar Nasional: Wujudkan Generasi Melek Aturan, Anti Perundungan, dan Anti Korupsi

Datokarama Arabic Fest 2025: Malam Puncak Milad ke-28 HMPS PBA